Kenali Obat Lewat Logo Pada Kemasannya

Kesehatan memang penting untuk dijaga. Tapi apabila sakit terlanjur menghampiri kita, minum obat pastilah kita jalani agar bisa sehat kembali.

Tapi apakah teman-teman memperhatikan setiap logo atau tanda yang ada disetiap kemasan obat, termasuk di obat tradisional ?

Setiap logo atau tanda tersebut mempunyai makna tersendiri lho, kita simak satu-satu ya…

A. Logo Obat Non-Tradisional

1. Logo Obat Bebas

Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas adalah lingkaran hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : Parasetamol.

2. Logo Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam. Contoh : CTM.

 3. Logo Obat Keras

Obat keras adalah obat yang hanya boleh diserahkan dengan resep dokter, dimana pada bungkus luarnya diberi tanda bulatan dengan lingkaran hitam dengan dasar merah yang didalamnya terdapat huruf “K” yang menyentuh lingkaran hitam tersebut. Termasuk juga semua obat yang dibungkus sedemikian rupa yang digunakan secara parenteral baik dengan cara suntikan maupun dengan cara pemakaian lain dengan jalan merobek jaringan. Contoh : Asam Mefenamat.

B. Logo Obat Tradisional

1. Jamu

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Jamu biasanya dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan nenek moyang yang disusun dari 5-10 macam tanaman obat bahkan lebih. Jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti pengalaman, yakni digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu. Tetapi meskipun demikian jamu tidak cukup dengan terbukti berkhasiat saja, tetapi harus aman sesuai persyaratan yang ditetapkan BPOM dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku. Karena meskipun terbukti berkhasiat, belum tentu aman dan bermutu.

2. Obat Herbal Terstandar

Obat Herbal Terstandar, adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, hewan, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak.

Selain proses produksi dengan teknologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian praklinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. Jadi obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan bahan bakunya telah di standarisasi.

3. Fitofarmaka

Fitofarmaka, adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Jadi Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi.

Sumber :

http://www.forumsains.com

http://www.andalusiaherba.com