[ Celoteh Arra] Surat Untuk Saudaraku di Jalanan

jiunkpe-ns-s1-2007-42403040-10908-anak_jalanan-extras2

Ngalam, suatu malam di tahun 2006

Kepada :

Saudaraku Gepeng

Di

Jalanan

Assalamua’alaikum.Wr. Wb.

Apa kabar saudaraku, pasti kalian malam ini sedang menikmati istirahat setelah seharian bekerja. Kalau masih boleh, aku pengen minta maaf.  Terus terang setiap kita bertemu diperempatan lampu merah, saat langkah kakimu beranjak mendekati kemobilku, hatiku selalu ber-buruk sangka kepadamu. Jangan-jangan spionku mau dicongkel. Jangan body mobilku bakalan digores klo ga ngasih uang. Dan macam-macam kata jangan-jangan lainya. Padahal engkau datang padaku dengan membawa sangka baik. Mudah-mudahan bapak ini mau ngasih uang. Mudah-mudahan mas ini mau beramal.

 

Saudaraku, aku tau klo sebenarnya keberadaanmu merupakan “tempat menabung pahala” buatku. Memberimu uang akan menjadi tabunganku diakhirat kelak. Tapi sungguh, terkadang hatiku berat untuk memberimu “santunan”. Terkadang terbersit segores ketidak-ikhlasan dalam setiap recehan yang kuberikan padamu. Percayalah, aku bukan tidak mau menolong. Badanmu masih sehat, semua angoota badanmu masih diberikan fungsi semestinya oleh Allah. Masih banyak pekerjaan yang masih bisa kamu lakukan dengan karunia Allah itu, selain pekerjaan ini.

Aku mohon saudaraku, jangan pula kamu berpura-pura cacat demi mengharapkan belas kasihan orang-orang. Tuhan masih mengkuasakan kedua kakimu berjalan, janganlah berpura-pura pincang. Tuhan masih membukakan matamu untuk melihat, janganlah berpura-pura buta. Syukurilah semua itu, karena tidak sulit bagi Allah untuk mencabut segala karunia atasmu itu.

Maafkan saudaraku yang benar-benar cacat, bukan maksudku menyinggung hati kalian. Tapi aku cuman minta janganlah keterbatasan tersebut menjadikan kalian menghinakan diri. Percaya deh, aku tidak lebih sempurna dari kalian. Mungkin kamu buta, tapi mata sehat yang aku miliki belum tentu bisa melihat kebenaran. Mungkin kakimu pincang, tapi sepasang kaki sehat yang kami miliki belum tentu melangkah kepada hal-hal yang bermanfaat.

Saudaraku, segala keterbatasan kalian janganlah dijadikan alasan untuk mencari jalan pintas dalam mencari rejeki dengan menghinakan diri, meminta belas kasihan orang lain. Tiada tempat berbelas kasihan yang terbaik selain kepada Allah. Tetap percayalah kepada-Nya, bahwa rejeki itu sudah ada jalannya.

Sekian dulu suratku ini. Maafkan saudaraku, bukan maksud aku menceramahi. Aku cuman berharap kita bisa hidup bersama-sama dalam kehidupan yang lebih layak. Aku percaya bahwa kalian pun berhak hidup lebih baik, tidak sekedar di perempatan jalan. Semoga Allah selalu meberikan rahmat-Nya kepada kita. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Salam Damaiku

Saudaramu

NB : Trims buat U.J. atas ceritanya di sore hari

yang mengilhami surat ini.l