[Review Album] Bandanaira : The Journey of Indonesia

Bandanaira adalah sebuah duo yang beranggotakan Lea Simanjuntak (vokal) dan Irsa Destiwi (piano).

Bandanaira – The Journey of Indonesia (R.P.M. Records – 2009)

1. Indonesia Pusaka
2. Cinta Indonesia
3. Sepasang Mata Bola
4. Maju Tak Gentar
5. Payung Fantasi
6. Di Bawah Sinar Bulan Purnama
7. Sersan Mayorku
8. Ibu Kita Kartini
9. Desaku
10. Hari Merdeka
11. Indonesia Raya

Karya dari komponis ternama diantaranya: Ismail Marzuki, Guruh Soekarno Putra, C. Simanjuntak, L. Manik, dll dibawakan Bandanaira dengan aransemen yang dinamis dan modern, sehingga dapat merangkul anak muda Indonesia untuk lebih cinta tanah air lewat lagu-lagu perjuangan dengan sentuhan jazz akustik yang nikmat.

Dua wanita berbakat ini telah bersahabat sejak sama-sama kuliah di FKIP Universitas Atmajaya Jakarta. Banyak sekali event atau acara yang mereka jalani berdua namun secara tidak sengaja. Berawal dari selera bermusik serta visi yang sama membawa dua wanita ini membentuk sebuah duo yang pada pertengahan 2009 lalu merilis album perdana mereka yang menyajikan lagu-lagu perjuangan Indonesia serta lagu-lagu cinta yang juga berasal dari era yang sama.

Bandanaira sendiri adalah nama pulau yang sangat indah di Kepulauan Maluku. Pemilihan nama Bandanaira mengartikan bahwa duo ini memiliki nama yang sangat Indonesia, serta keindahan dan misteri yang sama seperti cerita pulau itu sendiri. Bandanaira, bukan sekedar turut menamai diri dengan nama tapak geografis (yang pernah dilakukan Karimata, Krakatau atau Halmahera), dua jelita ini membawakan yang paling mungkin dari duet vokal-piano ketika menghidupkan pesona abadi para penggubah Indonesia.

Melebihi jamannya, di balik bait muda-mudi patriotik, komponis Ismail Marzuki ternyata membuka luas peluang interpretasi musikal dari gubahan-gubahannya. Tidak diberikan dengan cuma-cuma, nalar kreasi yang matang menjadi syarat yang wajib disetor di muka. Album “The Journey of Indonesia” mencoba kesempatan emas itu menyertakan pula karya abadi L. Manik, Maladi, C. Simandjuntak, W.R. Supratman, H. Mutahar hingga Guruh Soekarno Putra.

Ada kesan noir dari citra penyanyi solo yang bersanding anggun dengan pemain piano tunggal. Atribut minimalistik yang melambungkan ingatan kita pada crooning beriringkan piano stride dari Édith Piaf (legenda pemilik “La Vie En Rose”). Piaf menarasikan “Milord” dalam gestur monolog mendongak, menghayati drama rayuan lagu 1950-an tersebut. Saat kisah “Sersan Mayorku” meluncur, derap boom-chick klasik serupa itu dipercepat pianis Irsa Destiwi, bergegas-gegas temani gesekan country violin Tengku Ryo Riezqan. Maka, makin menjadilah drama tempo dulu menantu-pilot-gagah-idaman itu dibawakan gemas Lea Simanjuntak, komplit dengan latar riuh teatrikal bala-bantuan The Jakarta Broadway Singers.

Resep sedap Bandanaira rahasianya memang terletak di racikan groove Irsa dan cita suara tebal Lea. Pada hitungan baris-berbaris “Maju Tak Gentar” menyelinap imposisi ritme lain yang menjadikan senandung menghalau-rasa-gentar terdengar beda. Bayangan lenggak-lenggok gadis berlindung dari terik dalam “Payung Fantasi” pun jadi berubah setelah dibalut irama provokatif. Lea pun kerap meluncurkan aksen-aksen improvisasi bernaluri blues seperti juga dijajalnya pada “Indonesia Pusaka”.

Duet ini diperkuat permainan perkusif upright bass Doni Sundjoyo yang tampil solid bersama Philippe Ciminato. Mereka tekun membangun atmosfer “Sepasang Mata Bola”, seolah memindahkan kabut malam Bourbon Street ke tengah-tengah hampir-malam-di-Yogya, udu yang berpantulan dengan bass melebur serasi dengan lirih muted-trumpet Indra Artie Dauna. Ekspresi urban samba “Cinta Indonesia” pun mulus dihidupkan tim ritme ini.

Sumber : wartajazz.com —–  siemfestival.com