[Celoteh Arra] Senandung Razia : Senandung Pergi Untuk Kembali

5712930fa7afef6d48e96b23f08807d3cc01523

Apa tugas favorit para Satpol PP ? Kalo aku boleh nebak, kegiatan penertiban pelacuran jalanan jadi salah satu nominasi. Gmana ‘ngga, hampir tiap hari tayangan krimininal televisi menyajikan adegan “seru” tersebut. En PSK (Pekerja Seks Komersil) alias WTS (Wanita Tuna Susila) alias lonte, jadi sasaran favorit kegiatan ini.

Tapi kadang aku “terusik” melihat perlakuan satpol PP yang kadang arogan en nyari-nyari kesempatan ngelakuin pelecehan. Adegan yang sempat bikin aku terpikir merubah jalan hidup menjadi satpol PP aja, kan lumayan bisa colek-colek plus pegang-pegang ^_^ Aku lebih setuju bila razia ngelibatin satpol PP wanita. Selain menghindarkan para PSK dari kasus pelecehan, wanita kadang lebih mengedepankan persuasif dalam “mengamankan” para PSK. Biar gimana, para PSK juga manusia yang ingin diperlakuin sebagai manusia. Dihargai dan dihormati juga sebuah perlakuan yang masih pantas mereka dapatkan.

Bahkan kalau bicara fair, para PSK jalanan itu lebih “hebat” dibanding para PSK “terpelajar” (siapa itu, artikan aja sendiri).

Mereka mungkin ‘ngga punya handphone yang bikin mereka bisa nyantai di rumah nunggu panggilan, sehingga mereka mangkal di jalanan.
Mereka mungkin ‘ngga cukup punya duit masuk café tempat party untuk nyari “relasi”, sehingga mereka menunggu di jalanan.
Tapi mereka lebih jujur kepada masyarakat, lebih berani ngasih lihat kalau pelacuran adalah dunia kerjanya.
Tapi mungkin kejujuran mereka pulalah yang membuat “harga jual” mereka rendah, kurang eksklusif kali yee. Ya kaya pisang goreng pinggir jalanan ama pisang gorengan di resto kan beda, padahal sama aja, pisang digoreng.
Artinya dimanapun prakteknya, pelacuran tetap pelacuran.

Aku kadang bingung, landasan tindakan razia PSK jalanan itu. Memberantas kemaksiatan atau cuman alasan mengganggu keindahan kota. Kayanya alasan yang kedua deh yang diambil. Soalnya bila pake alasan pertama, gmana ya….

Mungkin petugas belum cukup punya waktu untuk “mampir” ke café-café party.
Mungkin petugas belum cukup punya uang untuk “check-in” ke hotel-hotel berbintang.
Mungkin petugas belum cukup punya minat untuk “nginap bareng” ke kost-kost mahasiswa.
Mungkin……

Permasalahan PSK yang kompleks tentu tidak bisa diserahkan pada kegiatan razia saja. Penanganan terhadap akar masalah (yang ujung-ujungnya kemiskinan mungkin) serta pembinaan PSK yang terjaring perlu lebih diberi perhatian lebih. Razia juga seperi sekedar formalitas, kegiatan yang jadi rutinitas liputan berita, dengan meninggalkan tujuan awalnya. Abis terjaring en didata, ‘ngga tau lagi deh diapain.

Katanya sih dibina, tapi kok tau-tau ketemu lagi ama tu anak di jalanan.
Katanya sih diberi pengarahan, tapi kok tau-tau ngeliat lagi tu anak di liputan razia.

Jadi jangan kaget kalo suatu saat melihat PSK terjaring sambil tersenyum dan bersenandung lirih “….selamat tinggal kasih, sampai kita jumpa lagi, aku pergi takkan lama…”. Yap, karena mereka dijaring untuk kembali mangkal, mereka PERGI UNTUK KEMBALI. [Arra]

_______________________________

Tulisan ini dibuat tahun 2006 dan pernah diposting diblogku sebelumnya yang sekarang udah tidak aktif. Tulisan ini diposting seutuhnya sama seperti postingan 2006, jadi gaya menulis dan pola pikirku ditahun 2006 masih terekam utuh. Tulisan ini diposting sebagai pembuka dan awal dari benang merah celoteh-celotehku yang baru.
Mungkin sebuah repost, tapi semoga tetap ada yang bermanfaat dari celotehku ini, celoteh Arra