Istana Maimoon – Medan, Sumatera Utara

Pada masa Raja Deli VIII, Sultan Mahmud Perkasa Alam (1828-1873), yang pada waktu itu masih berkedudukan di Labuhan Deli, mulai menyusun strategi pembangunan di sektor perkebunan. Untuk itu, ia mengundang investor Belanda, Jacobus Nienhuys, yang kemudian dilanjuti dengan kontrak lahan secara berjangka dengan Kongsi Deli Maatschappij untuk menanam modal di perkebunan-perkebunan di wilayah Deli, terutama di perkebunan tembakau.
Investasi-investasi yang telah dilakukan para investor, lama-kelamaan mengalami kemajuan yang signifikan, di mana Negeri Kesultanan Deli memperoleh keuntungan dan kemakmuran ekonomi, karena Tembakau Deli sangat laku di pasaran dunia. Puncak keemasaannya adalah pada masa Sultan Ma‘moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Dari kemakmuran ekonomi inilah, akhirnya Sultan Ma‘moen Al-Rasyid Perkasa Alamsyah memindahkan kerajaan dari Labuhan Deli ke Medan, sekaligus mendirikan Istana Maimoon pada abad ke-19 Masehi (26 Agustus 1888). Arsitek istana ini adalah seorang berkebangsaan Belanda yang bernama Kapten T.H. Van ETP. Pada masa lalu istana ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Deli, namun juga sebagai pusat adat dan budaya Melayu, tempat bermusyawarah antarmasyarakat dan pusat dakwah Islam.

Keberadaan Istana Maimoon sebagai pusat pemerintahan di Medan, menjadikan Medan tidak hanya sebagai kota pemerintahan, namun juga sebagai kota kosmopolitan. Banyak orang dari berbagai suku bangsa, seperti etnis Batak, Jawa, Aceh, Minang, Cina dan India, berdatangan ke Medan (Ibu Kota Deli).

Istana Maimoon berarsitektur Melayu, dan bercorak Eropa. Ia menjadi simbol kemajuan dan kemakmuran ekonomi, dan pluralisme budaya pada masa pemerintahan Kesultanan Deli. Istana Maimoon bukanlah satu-satunya istana di lingkungan Kesultanan Deli, namun keberadaan istana-istana yang lain sudah tidak terlihat lagi.

Pada saat ini Istana Maimoon dibuka untuk umum. Di dalam istana terdapat singgasana sultan dan permaisurinya. Pengunjung dapat duduk dan berfoto di sana. Ruangan bagian tengah sebelah kanan, terdapat tempat duduk yang lebar berwarna kuning, yang pada masa lalu merupakan tempat di mana sultan dan permaisuri duduk bersantai. Di tengah ruangan utama terpasang bola lampu made in Italia yang terlihat mewah dan indah. Banyak foto keluarga kesultanan dipajang di dinding dan di atas bufet.

Istana Maimoon berada di Kelurahan Aur, Kecamatan Medan Maimoon, Kota Medan, Sumatera Utara, Indonesia.
D. Akses Menuju Lokasi

Akses menuju ke lokasi ini sangat mudah, karena Kelurahan Aur berada di tengah kota Medan. Banyak angkutan umum yang lalu lalang melewati lokasi ini, seperti taxi, angkutan umum, becak mesin, dan becak dayung.

Oleh karena lokasinya di tengah Kota Medan, tidak sulit mencari penginapan kelas melati atau pun hotel berbintang. Restoran dan kedai makanan juga mudah ditemukan di sekitar lokasi.

Sumber :  wisatamelayu.com(Poncut/wm/03/ 03-08)